Selasa, 23 Juli 2013

Mengalah Bukan Kalah

mengalah untuk kebaikan
Banyak orang tidak mau mengalah karena mengalah sering disamakan dengan kalah. Orang yang mengalah dianggap lemah dan pengecut. Apakah benar demiakian???.

Mengalah Tanda Kerendahan Hati (1 Samuel 24:1-16)

Cerita tentang Daud dan Saul mengajarkan pada kita apa arti mengalah yang sebenarnya. Ketika Daud punya kesempatan untuk membunuh Saul, ia tidak melakukannya. Ia mengalah dan membiarkan Saul hidup. Ia hanya memotong ujung jubah Saul untuk membuktikan padanya bahwa ia punya kesempatan untuk membunuh Saul tetapi tidak dilakukannya. Padahal jika saja Daud membunuh Saul saat itu, ia pasti langsung menjabat sebagai raja menggantikan Saul. Daud memilih membiarkan Saul hidup, walaupun ia harus terus sembunyi dari kejaran Saul dan tentaranya yang ingin membunuh Daud. Daud melakukan hal itu bukan karena ia lemah dan pengecut, melainkan karena ia menghormati dan menghargai Saul yang diyakininya sebagai raja yang diurapi Tuhan. Meskipun Saul telah bersikap jahat pada Daud dan berniat membunuhnya. Daud tetap dengan rendah hati mengasihi dan menghormati Saul.
Sikap mengalah adalah wujud kerendahan hati. Orang yang bersedia mengalah bukanlah pihak yang kalah. Merekalah justru sang pemenang. Sebab, hanya orang yang berjiwa besarlah yang mau mengalah untuk sebuah kebaikan. Kebalikan dari sikap mengalah adalah mau menang sendiri. Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai pecundang. Mereka tahu bahwa mereka salah tetapi mereka bertahan dan menolak untuk mengaku salah. Mereka takut kehormatan mereka hilang jika mereka mengaku salah. Justru orang yang mau menang sendiri yang sebenarnya lemah dan pengecut. Mereka tidak berani mengakui kelamahan dan kesalahan mereka. Sikap mengalah justru lebih disukai dan dihormati, ketimbang sikap mau menang sendiri. Jadi jangan takut untuk mengalah, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar